Telpon/WA:
0878-2002-0008
Jam Operasional
- Senin : 11:00 – 19:00
- Selasa : 11:00 – 19:00
- Rabu : 11:00 – 19:00
- Kamis : 11:00 – 19:00
- Jumat : 11:00 – 19:00
- Sabtu : 11:00 – 18:00
- Minggu : Libur
Telpon/WA:
0878-2002-0008
Jam Operasional

Impor Indonesia meningkat tajam pada Juni 2026 hingga mencapai US$25,91 miliar. Lonjakan terbesar datang dari sektor migas yang tumbuh lebih dari 100 persen. Di tengah kenaikan tersebut, neraca perdagangan Indonesia berbalik mencatat defisit US$450 juta.
Jakarta — Aktivitas impor Indonesia melonjak cukup tajam pada Juni 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total nilai impor mencapai US$25,91 miliar, naik 34,27 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kenaikannya bukan angka kecil. Jika dibedah lebih jauh, sektor minyak dan gas (migas) menjadi faktor paling besar yang mendorong lonjakan tersebut.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengungkapkan, impor migas pada Juni 2026 meningkat 105,15 persen secara tahunan hingga mencapai sekitar US$4,56 miliar.
Impor nonmigas juga bergerak naik, meski lajunya tidak seagresif migas. Nilainya mencapai sekitar US$21,35 miliar, meningkat 25,05 persen dibandingkan Juni tahun sebelumnya.
Kenaikan impor migas tidak hanya terjadi dari sisi nilai transaksi.
BPS mencatat volume barang yang masuk juga meningkat. Pada saat bersamaan, harga komoditas energi mengalami kenaikan cukup tinggi sehingga ikut mendongkrak nilai impor secara keseluruhan.
Kondisi ini kembali memperlihatkan besarnya ketergantungan Indonesia terhadap pasokan energi dari luar negeri.
Singapura masih menjadi salah satu pemasok utama migas Indonesia dengan kontribusi sekitar 28,36 persen. Posisi berikutnya ditempati Malaysia sebesar 19,72 persen, kemudian Amerika Serikat dengan porsi sekitar 8,55 persen.
Jika ditarik sepanjang enam bulan pertama 2026, tren kenaikan impor terlihat semakin jelas.
Total impor Indonesia pada periode Januari-Juni 2026 mencapai US$137,24 miliar, tumbuh 18,69 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari jumlah tersebut, impor migas tercatat sekitar US$22 miliar, melonjak 38,71 persen.
Impor nonmigas masih menjadi bagian terbesar dengan nilai US$115,23 miliar, naik sekitar 15,5 persen secara tahunan.
Besarnya impor nonmigas tidak serta-merta bisa dibaca sebagai sinyal negatif. Sebagian barang yang masuk merupakan kebutuhan bahan baku, barang penolong, dan kebutuhan produksi industri di dalam negeri.
Persoalannya menjadi berbeda ketika kenaikan impor terjadi jauh lebih cepat dibanding kemampuan ekspor menghasilkan devisa.
Lonjakan impor akhirnya ikut menekan neraca perdagangan Indonesia.
Pada Juni 2026, nilai ekspor Indonesia tercatat US$25,46 miliar. Pada saat yang sama, impor mencapai US$25,91 miliar.
Selisih tersebut membuat neraca perdagangan mencatat defisit sekitar US$450 juta.
Migas menjadi sumber tekanan paling besar.
Neraca perdagangan migas membukukan defisit sekitar US$3,49 miliar, terutama berasal dari perdagangan hasil minyak dan minyak mentah.
Angka tersebut cukup besar untuk menghapus surplus yang masih dihasilkan sektor nonmigas.
Di tengah tekanan migas, perdagangan nonmigas masih memberikan bantalan bagi neraca perdagangan nasional.
BPS mencatat sektor nonmigas menghasilkan surplus sekitar US$3,04 miliar pada Juni.
Surplus tersebut terutama ditopang perdagangan bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan atau nabati, serta besi dan baja.
Gambaran ini menunjukkan persoalan neraca perdagangan Indonesia saat ini bukan semata-mata karena ekspor kehilangan daya saing. Tekanan besar justru datang dari kebutuhan impor energi yang tinggi.
Meski Juni berakhir dengan defisit, posisi perdagangan Indonesia secara kumulatif belum masuk zona merah.
Sepanjang Januari hingga Juni 2026, neraca perdagangan barang masih membukukan surplus US$3,58 miliar.
Surplus tersebut ditopang sektor nonmigas yang menghasilkan sekitar US$19,35 miliar.
Sebaliknya, sektor migas mencatat defisit besar hingga US$15,77 miliar sepanjang semester pertama.
Perbedaan tersebut memperlihatkan betapa pentingnya kinerja ekspor nonmigas dalam menjaga keseimbangan perdagangan Indonesia.
Lonjakan impor kali ini kembali membuka persoalan lama: kebutuhan energi Indonesia masih sangat sensitif terhadap pasokan dan harga dari luar negeri.
Ketika kebutuhan minyak meningkat bersamaan dengan kenaikan harga global, nilai impor dapat melonjak dalam waktu relatif singkat. Dampaknya bukan hanya terlihat pada neraca perdagangan, tetapi juga berpotensi meningkatkan kebutuhan valuta asing.
Bagi perekonomian, impor sebenarnya tidak selalu buruk. Masuknya bahan baku dan barang modal bahkan dapat menjadi sinyal bahwa industri sedang meningkatkan produksi.
Namun impor energi memiliki karakter berbeda. Ketergantungan yang terlalu tinggi membuat neraca perdagangan lebih mudah tertekan ketika harga minyak dunia bergerak naik.
Data Juni menjadi contoh yang cukup jelas. Nonmigas masih menghasilkan surplus, tetapi lonjakan kebutuhan migas mampu menyeret keseluruhan neraca perdagangan ke zona defisit.
Ke depan, arah harga minyak dunia, kebutuhan energi domestik, nilai tukar rupiah, serta kemampuan ekspor nonmigas akan menjadi faktor penting yang menentukan apakah defisit Juni hanya bersifat sementara atau menjadi tekanan yang berlanjut pada semester kedua 2026.