Telpon/WA:
0878-2002-0008
Jam Operasional
- Senin : 11:00 – 19:00
- Selasa : 11:00 – 19:00
- Rabu : 11:00 – 19:00
- Kamis : 11:00 – 19:00
- Jumat : 11:00 – 19:00
- Sabtu : 11:00 – 18:00
- Minggu : Libur
Telpon/WA:
0878-2002-0008
Jam Operasional

Nilai tukar rupiah kembali jadi perhatian pasar dalam beberapa waktu terakhir. Setelah bergerak cukup stabil di awal tahun, rupiah kini menghadapi tekanan yang lebih berat hingga sempat mendekati level Rp17.600 per dolar Amerika Serikat.
Situasi ini memicu kekhawatiran pelaku usaha dan investor, terutama karena pelemahan terjadi di tengah kondisi global yang masih penuh ketidakpastian.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa tekanan terhadap rupiah bukan berasal dari memburuknya fundamental ekonomi Indonesia. Menurutnya, faktor eksternal justru menjadi penyebab terbesar pergerakan dolar AS yang semakin agresif terhadap banyak mata uang dunia.
Konflik geopolitik di Timur Tengah disebut menjadi salah satu pemicu utama. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran membuat pasar global kembali bergerak ke aset aman atau safe haven berbasis dolar AS.
Saat kondisi global memanas, investor biasanya memilih menarik dana dari negara berkembang dan memindahkannya ke instrumen yang dianggap lebih aman. Dampaknya langsung terasa ke nilai tukar berbagai mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Tekanan makin kuat karena imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat ikut naik. Yield US Treasury tenor 10 tahun bahkan disebut mendekati 4,5%, level yang cukup tinggi dan membuat aset dolar semakin menarik di mata investor global.
Arus modal asing pun mulai keluar dari pasar negara berkembang.
Meski begitu, BI menilai kondisi ekonomi domestik masih cukup solid. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 tercatat berada di kisaran 5,61%, sementara inflasi tetap terkendali di level 2,42%.
Neraca perdagangan juga masih mencatat surplus, ditambah pertumbuhan kredit perbankan yang dinilai tetap terjaga.
Di luar faktor global, ada juga tekanan musiman yang ikut memengaruhi permintaan dolar di dalam negeri. Periode April hingga Mei biasanya memang diwarnai kebutuhan valuta asing yang lebih tinggi.
Mulai dari pembayaran utang luar negeri perusahaan, pembagian dividen, sampai kebutuhan masyarakat untuk perjalanan umroh dan haji, semuanya ikut meningkatkan permintaan dolar AS secara bersamaan.
Lihat Juga :
Konsultasi Gratis dan Butuh modal cepat tanpa ribet
Kondisi inilah yang membuat tekanan terhadap rupiah terasa semakin besar.
Bank Indonesia memastikan tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Intervensi dilakukan melalui pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), hingga berbagai instrumen moneter lainnya untuk meredam volatilitas berlebihan.
Pelemahan rupiah kali ini sebenarnya bukan kasus yang berdiri sendiri. Beberapa mata uang negara berkembang lain seperti won Korea Selatan, baht Thailand, peso Filipina, hingga rupee India juga mengalami tekanan serupa akibat penguatan dolar AS secara global.
Situasi tersebut menunjukkan betapa sensitifnya pasar keuangan dunia terhadap konflik geopolitik dan arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Selama ketidakpastian global masih tinggi dan dolar AS tetap perkasa, tekanan terhadap mata uang emerging market kemungkinan masih akan terus berlanjut, termasuk terhadap rupiah.