Harga Emas Antam Diprediksi Kembali Tembus Rp3 Juta per Gram pada Akhir 2026

Harga Emas Antam Diprediksi Kembali Tembus Rp3 Juta per Gram pada Akhir 2026

JAKARTA – Harga emas Antam diperkirakan masih memiliki peluang menguat hingga kembali menyentuh level Rp3 juta per gram menjelang akhir 2026. Proyeksi tersebut muncul di tengah koreksi harga emas yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai prospek emas dalam jangka menengah hingga panjang masih positif. Salah satu faktor yang berpotensi menopang harga adalah ketidakpastian geopolitik, terutama konflik yang belum mereda di Timur Tengah dan Eropa Timur.

Situasi geopolitik yang meningkat biasanya membuat pelaku pasar mencari aset yang dinilai mampu menjaga nilai kekayaan. Dalam kondisi tersebut, emas kerap menjadi salah satu instrumen yang mendapat perhatian karena karakteristiknya sebagai aset lindung nilai atau safe haven.

Ibrahim memperkirakan harga logam mulia berpeluang kembali menuju kisaran Rp3 juta per gram pada akhir tahun apabila sentimen geopolitik terus memberikan dorongan terhadap harga emas global.

Harga Antam Sedang Terkoreksi

Prediksi tersebut muncul ketika harga emas Antam justru mengalami tekanan.

Pada Selasa, 8 September 2026, harga emas Antam tercatat turun Rp10.000 menjadi Rp2.627.000 per gram. Sehari sebelumnya, harga emas 24 karat tersebut berada di level Rp2.637.000 per gram setelah mengalami penurunan Rp3.000.

Dengan demikian, koreksi yang terjadi selama dua hari mencapai Rp13.000 per gram.

Penurunan jangka pendek tersebut menunjukkan bahwa pergerakan emas tidak hanya dipengaruhi ketegangan geopolitik. Kondisi ekonomi Amerika Serikat, arah kebijakan suku bunga, inflasi, serta pergerakan harga energi juga menjadi faktor penting bagi pasar.

Data Tenaga Kerja AS Tekan Harga Emas

Salah satu sentimen yang menjadi perhatian adalah membaiknya data tenaga kerja Amerika Serikat.

Kondisi pasar tenaga kerja yang lebih kuat dapat memberikan ruang bagi Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama. Bahkan, kemungkinan pengetatan kebijakan moneter kembali dapat menjadi perhatian apabila tekanan inflasi meningkat.

Suku bunga yang tinggi umumnya menjadi tantangan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil berupa bunga. Ketika instrumen berbasis dolar menawarkan imbal hasil lebih menarik, sebagian investor dapat mengalihkan dananya dari emas.

Lonjakan Harga Minyak Ikut Jadi Perhatian

Faktor berikutnya berasal dari kenaikan harga minyak mentah dunia.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) disebut telah bergerak di atas US$90 per barel, sementara Brent mendekati US$100 per barel.

Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi di Amerika Serikat. Apabila inflasi kembali meningkat, Federal Reserve dapat mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.

Kondisi inilah yang dalam jangka pendek dapat memberikan tekanan terhadap pergerakan harga emas.

Geopolitik Bisa Menjadi Penopang

Di sisi lain, ketidakpastian global masih menjadi faktor yang berpotensi membatasi penurunan emas.

Konflik berkepanjangan di sejumlah kawasan dapat meningkatkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi dan pasar keuangan. Ketika ketidakpastian meningkat, permintaan terhadap aset lindung nilai biasanya ikut menjadi perhatian.

Emas secara historis menjadi salah satu instrumen yang digunakan investor untuk melakukan diversifikasi ketika risiko pasar meningkat.

Karena itu, pergerakan harga emas dalam beberapa bulan mendatang berpotensi ditentukan oleh tarik-menarik antara kebijakan moneter yang ketat dan meningkatnya kebutuhan terhadap aset aman.

Peluang Menuju Rp3 Juta per Gram

Dengan harga Rp2.627.000 per gram, emas Antam masih membutuhkan kenaikan sekitar Rp373.000 atau lebih dari 14 persen untuk mencapai Rp3 juta per gram.

Target tersebut merupakan proyeksi, bukan kepastian. Perubahan kondisi geopolitik, inflasi, kebijakan Federal Reserve, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, serta harga emas internasional dapat membuat pergerakan harga berbeda dari perkiraan.

Bagi masyarakat yang mempertimbangkan emas sebagai investasi, koreksi harga dapat menjadi momentum untuk kembali mengevaluasi strategi pembelian. Namun keputusan investasi sebaiknya tetap mempertimbangkan tujuan keuangan, jangka waktu investasi, dan kemampuan menanggung risiko.

Emas juga tidak selalu bergerak naik dalam jangka pendek. Harga dapat mengalami koreksi meskipun tren jangka panjang dinilai positif.

Dengan berbagai ketidakpastian yang masih membayangi perekonomian global, perjalanan emas menuju Rp3 juta per gram pada akhir 2026 akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter dunia.

Sumber: detikFinance, laporan 8 September 2026.
Catatan: Informasi mengenai proyeksi harga merupakan pandangan pengamat dan bukan jaminan bahwa harga emas akan mencapai level tersebut. Artikel ini bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual instrumen investasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *