Telpon/WA:
0878-2002-0008
Jam Operasional
- Senin : 11:00 – 19:00
- Selasa : 11:00 – 19:00
- Rabu : 11:00 – 19:00
- Kamis : 11:00 – 19:00
- Jumat : 11:00 – 19:00
- Sabtu : 11:00 – 18:00
- Minggu : Libur
Telpon/WA:
0878-2002-0008
Jam Operasional

Jakarta — Perekonomian dunia masih menghadapi jalan terjal sepanjang 2026. Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global hanya berada di kisaran 3%, dengan ketidakpastian pasar keuangan yang masih tinggi.
Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan kondisi tersebut tidak terlepas dari meningkatnya tensi geopolitik, terutama perang di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Konflik berkepanjangan telah mendorong kenaikan harga minyak dan sejumlah komoditas dunia. Efeknya menjalar ke banyak negara melalui kenaikan biaya energi, tekanan harga, hingga meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar.
Berdasarkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG), BI melihat prospek perekonomian dunia masih relatif lemah.
“Pertumbuhan ekonomi dunia 2026 belum kuat yang diperkirakan sekitar 3%,” kata Destry dalam konferensi pers secara virtual, Rabu (19/8/2026).
Masalahnya bukan hanya pertumbuhan yang melambat. Inflasi dunia juga belum sepenuhnya jinak.
BI memperkirakan tekanan inflasi global masih berada di kisaran 4,5% pada 2026. Angka tersebut membuat ruang bagi sejumlah bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneternya menjadi lebih terbatas.
Ketika inflasi tetap tinggi, bank sentral cenderung mempertahankan suku bunga pada level ketat untuk menahan kenaikan harga. Kondisi ini pada akhirnya berpengaruh terhadap biaya pinjaman, investasi, konsumsi, hingga aktivitas perdagangan dunia.
Bagi negara berkembang seperti Indonesia, periode suku bunga global yang tinggi juga membawa tantangan tersendiri karena investor memiliki lebih banyak pilihan untuk menempatkan dananya pada aset berdenominasi dolar AS.
Perhatian BI juga tertuju pada kebijakan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed.
Menurut Destry, kebijakan suku bunga AS diperkirakan bertahan tinggi lebih lama atau higher for longer. Bahkan, BI melihat adanya kemungkinan suku bunga acuan The Fed meningkat pada kuartal IV 2026.
Skenario tersebut penting bagi Indonesia.
Suku bunga AS yang tinggi membuat aset berbasis dolar menjadi lebih menarik bagi investor global. Dana yang sebelumnya mengalir ke negara berkembang dapat beralih kembali ke pasar Amerika Serikat untuk mencari kombinasi imbal hasil dan risiko yang dianggap lebih menarik.
Dampaknya bisa merembet ke pasar saham, obligasi, hingga nilai tukar mata uang negara berkembang.
Ketidakpastian tersebut juga membuat investor lebih berhati-hati menempatkan modalnya di negara-negara emerging market.
BI melihat perkembangan global ikut mendorong penguatan dolar AS terhadap mata uang negara maju maupun berkembang.
Bagi Indonesia, dolar yang kuat menjadi isu penting karena dapat meningkatkan tekanan terhadap rupiah.
Rupiah yang melemah berpotensi membuat barang impor menjadi lebih mahal, terutama bahan baku, barang modal dan energi yang transaksinya menggunakan dolar. Jika berlangsung lama, tekanan tersebut dapat ikut masuk ke biaya produksi perusahaan.
Di sinilah tantangannya menjadi lebih rumit. Bank sentral tidak hanya perlu menjaga pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus mempertahankan stabilitas rupiah dan inflasi di tengah tekanan eksternal.
Perang di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang paling sulit diprediksi.
Kawasan tersebut memiliki posisi strategis dalam rantai pasok energi dunia. Gangguan terhadap produksi maupun distribusi minyak dapat dengan cepat mendorong harga energi naik.
Bagi negara pengimpor minyak, lonjakan harga energi dapat memperbesar biaya impor sekaligus memberikan tekanan terhadap inflasi.
Indonesia tidak sepenuhnya kebal terhadap risiko tersebut. Ketika harga minyak dunia melonjak bersamaan dengan dolar yang menguat, beban impor energi bisa meningkat dari dua arah sekaligus.
Menghadapi situasi tersebut, BI menilai koordinasi kebijakan fiskal dan moneter menjadi semakin penting.
Menurut Destry, perkembangan global mengharuskan adanya penguatan sinergi kebijakan untuk menjaga ketahanan eksternal, mempertahankan stabilitas, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.
Tantangan pemerintah dan BI bukan sekadar mengejar pertumbuhan setinggi mungkin.
Dalam situasi global yang tidak stabil, menjaga kepercayaan investor, stabilitas rupiah, inflasi, cadangan devisa dan kesehatan sektor keuangan sama pentingnya dengan mendorong ekspansi ekonomi.
Proyeksi pertumbuhan global sebesar 3% menunjukkan perekonomian dunia masih bergerak dalam kondisi yang rapuh.
Konflik geopolitik, inflasi 4,5%, harga komoditas yang tinggi serta kebijakan suku bunga ketat dapat menjadi kombinasi yang menahan investasi dan perdagangan internasional.
Bagi Indonesia, dampaknya tidak selalu datang dalam bentuk perlambatan ekonomi secara langsung. Tekanan bisa lebih dulu muncul melalui rupiah, pasar obligasi, arus modal asing, harga energi dan biaya impor.
Karena itu, perkembangan kebijakan The Fed dan konflik Timur Tengah akan tetap menjadi dua faktor eksternal yang perlu dicermati sepanjang sisa 2026.